Posted by: Mama Selma on: February 11, 2008
Oh, itu toh asal muasalnya? Ya, sebuah fakta sejarah yang tidak sepenuhnya berakar dari budaya bumi putera itu sejatinya telah memegang andil yang cukup besar dalam merubah sikap sosial bangsa kita pada umumnya. Sebuah sikap anti sosial yang mendorong pada “kebencian semu” itu kenyataannya telah menjangkiti sebagian besar dari kita dan “sempat” membuat perubahan cara pandang kita terhadap kaum Tionghoa di tanah air.
Semuanya bermula ketika Jepang menjajah Tiongkok. Di seluruh daratan pendudukan Jepang termasuk Indonesia, Jepang telah memaklumatkan bahwa seluruh kawasan elite, instansi-instansi pemerintahan, rumah mewah dan jalan-jalan utama agar diberikan plang/signage “CINA DAN ANJING TIDAK BOLEH MASUK”. Intimidasi itu sangat kuatnya sehingga menimbulkan trauma tidak hanya bagi suku bangsa Tionghoa namun juga bagi para bumi putera yang tidak ingin dipandang sejenis dengan mereka. Walaupun kenyataannya tidak sedikit para bumi putera itu yang nasibnya berujung sebagai jongos alias budak.
Nampaknya Jepang tidak hanya mewariskan budaya pentingnya untuk menjaga dan melindungi harga diri melalui Harakiri, juga Kaizen yang mendorong kita untuk melakukan perubahan menuju ke arah perbaikan secara terus menerus. Namun Jepang juga mewariskan setitik bibit retensi terhadap keberadaan saudara-saudara kita sebangsa yang saya dan tentunya anda yakin tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai suku tertentu apalagi suku Tionghoa.
Dokumen tertulis hasil kesimpulan Seminar Pertama Angkatan Darat Republik Indonesia di Bandung, bulan Agustus 1966 menyatakan “… untuk menghilangkan rasa inferior terhadap bangsa kita sendiri serta menghilangkan rasa superior pada bangsa Tjina, maka kami kembali memakai penjebutan Republik Rakyat Tjina dan warganegara Tjina dari Republik Rakyat Tiongkok dan warga negaranya …”
Padahal penggunaan istilah TIONGHOA telah dikokohkan di Indonesia setelah revolusi rakyat Tiongkok mencapai kemenangan di bawah pimpinan Dr Sun Yat Sen, 10 Oktober 1911. Jadi, penggunaan istilah CINA dengan TIONGHOA secara umum di Indonesia merupakan hasil revolusi rakyat Tiongkok,” tulis Siauw Giok Tjhan dalam bukunya yang berjudul LIMA ZAMAN, PERWUJUDAN INTEGRASI WAJAR. Siauw Giok Tjhan adalah tokoh masyarakat Tionghoa asal Kapasan, Surabaya. Di masa perjuangan hingga menjelang Orde Baru, nama Siauw sangat kondang karena pernah menjabat menteri kabinet Presiden Soekarno.
Nama resmi Tiongkok setelah revolusi nasional adalah CHUNGHUA MINKUO atau REPUBLIK TIONGKOK. CHUNGHUA adalah ucapan mandarin berdasar dialek Hokkian. Setelah 1 Oktober 1949, nama negara Tiongkok menjadi CHUNGHUA REN MIN LIEN HUO KUO. Kalau diindonesiakan menjadi REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK alias Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
“Jadi, bila mau resmi-resmian harus menyebut TIONGKOK dengan CHUNGKUO dan bahasa serta orangnya diterjemahkan menjadi CHUNGHUA dalam lidah mandarin dan TIONGHOA dalam dialek Hokkian. Terserah… tapi yang pasti bukan CINA. Apalagi orang Indonesia tentu bukan orang Inggris yang menyebut TIONGKOK dengan CHINA,” tulis Siauw Giok Tjhan.
Efek “maklumat” hasil seminar Angkatan Darat RI tahun 1966 mengenai penggunaan Cina untuk menyebut kaum Tionghoa mendorong ternentuknya semangat survival yang luar biasa. Karena tidak bisa menjadi pegawai instansi pemerintahan, sekolah di sekolah umum/negeri, apalagi berkiprah membela kedaulatan dengan menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia akhirnya mereka lebih memilih di bidang netral alias berdagang dan konsentrasi untuk menumpuk harta. Maklumat itu jelas merupakan awal petaka harmonisasi sebuah bangsa.
Lama kelamaan mereka menikmati peran itu dan ogah menjajal profesi lain. Lama kelamaan mereka menikmati lingkungan “eksklusif” yang awalnya sekedar untuk mengakomodir keterbatasan mereka ketimbang bersosialisasi pun ketika Orde telah berganti. Lama kelamaan bumi putera pun menganggap hal tersebut adalah sebuah kenormalan dan justru memandang aneh ketika sebagian dari mereka mencoba keluar dari zona tersebut. Padahal struktur Konfusian masyarakat Tioghoa itu aslinya adalah sarjana, petani, pengrajin baru pedagang. Ya, situasi sudah terbolak-balik. Kedua belah pihak saling curiga jika salah satu di antaranya bertindak sebaliknya. Padahal sejatinya, mereka hanya ingin berlaku normal senormal-normalnya.
Tapi semua itu sudah berlalu. Alhamdulillah sudah lima tahun terakhir terutama sejak era Gus Dur menjadi presiden, liang liong kembali meliuk di perayaan imlek, barongsay melompat dan menari menghibur tidak hanya kaum Tionghoa di perayaan tahun baru kalender China tersebut. Ya, Gus Dur telah sukses meletakkan pondasi pluralisme di tanah air dengan merangkul kaum Tionghoa dan menanamkan pemahaman bahwa suku Tionghoa tak ubahnya dengan pribumi dari suku Jawa, Madura, Batak ataupun Bali. Bahwa nasionalisme tidak bisa diukur semata dari suku apa seseorang berasal. Pribumi tidak boleh memandang kaum Tionghoa dengan pandangan yang berbeda dan memanggil mereka dengan sebutan Cina (karena itu menyakitkan). Sebaliknya, kaum Tionghoa wajib segera membebaskan diri dari trauma masa lalu dan mulai berbaur dengan pribumi dengan penuh percaya diri. Saling bermanfaatlah untuk yang lain. Karena pada hakekatnya kita semua adalah sama di mata Tuhan, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-Hujurat 49:13
” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku- suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Maka, ketika kelompok paduan suara Friend’s Group menyanyikan lagu Pemuda Indonesia di Perayaan Tahun Baru Imlek 2559/2008 di SIBEC Convention Hall, ITC Surabaya pada hari Jum’at, 8 Februari 2008 lalu, di mana salah satu liriknya berbunyi ..
Jangan tanya kami suku apa
Jangan tanya agama kami apa
Tak terasa air mata saya meleleh …
References:
http://hurek.blogspot.com/search/label/tionghoa
Gong Xi Fat Chai….
Semoga indonesia berubah dan tidak mempermasalahkan SARA lagi, karena hal seperti itu yang menghambat kemajuan negri.
Cerita ini terjadi pada saat penjajahan jepang yang tidak berperikemanusiaan tapi saya percaya pada saat ini jalan pikiran jepang udah berbeda.
Berbeda apanya Mas?
Assalamu’aiaikum mbak
Tagihannya dah kubayar neh… hehehehe.
Emm…agak susah juga berkomentar saat berdiri sebagai pihak yang sering diperlakukan tak seimbang oleh orang lain, apalagi ternyata dari ras yang skarang telah memiliki SukaCita baru ini.
Sebenarnya sih bukan hanya dari warisan Jepang saja, mbak. Saat penjajahan Belanda pun, rekan2 kita dari Daratan Luas ini di posisikan pada kelas nomor dua, jadinya, warga Eropa kelas satu, warga Tionghoa, trus warga Arab, baru nyusul warga penggede… itu pun terpilih, Simak saja kasus Kartini.
Yah, susah banget berdiri bijak pada situasi rasisme dan ekonomi dicampur aduk, apalagi tanpa bisa jejaki maksud terselubung didalamnya.
Gong Xi Fat Chai !
Semua karena sebab akibat khan…
Disebabkan tidak pernah bersinggungan dan dilecehkan Cino / Cina anda gak bakalan rasialis..
Disebabkan pernah dilecehkan oleh orang cino/cina,anda jadi anticina..
Karma … klo kita tidak ingin dilecehkan jangan melecehkan orang lain baik sadar ataupun tidak … ketika kita bilang dengan alasan apapun bahwa janganlah kita membedakan ras cina dan mereka adalah saudara kita … saya setuju
Tapi coba tanyakan pada orang yg anaknya disiksa orang cina…
Salam sejahtera untuk kita semua..
Saya sebenarnya sdh lama mengamati fenomena rasisme (pribumi vs nonpribumi). Mengapa etnis CINA kurang disukai oleh kaum pribumi, adalah karena sikap hidup mereka sendiri.
Etnis CINA kurang mau bersosialisai dengan kaum pribumi, suka mengeksklusifkan diri (merasa kaum/etnisnya adalah kasta tertinggi) –mgkn karena sukses berwiraswasta–, dan TIDAK CINTA TANAH AIR INDONESIA.
Di berbagai kesempatan dan tempat dimana banyak etnis CINA berkumpul, Saya sering mendengar celotehan dari mulut mereka (CINA) bahwa, mereka sangat membanggakan negri CINA. Pernah juga Saya mendengar langsung di tempat makan (warung) CINA, seorang CINA paruh baya berkata pada orang CINA yang lebih muda, “cari duit di Indonesia aja sebanyak-banyaknya, kalo nergi ini runtuh atau ada kerusuhan, kita pindah ke Singapore aja! Hahaha!”, kekehnya.
Dari sini kita bisa menilai, bahwa orang2 CINA cuma mau cari untung dari tanah air Indonesia. Saya sebenarnya sangat setuju atas tindakan pemerintah kita dulu yang melarang orang2 dari etnis CINA untuk jadi PNS/PN. Pemerintah kita sdh berpikir cukup panjang untuk melihat keadaan 20-30 tahun ke dpn. Lihat saja seperti Singapura. Warga asli (pribumi) nya tersisihkan,because the CHINESE rules the nation!
Untuk orang2 CINA pesan Saya : JANGAN LUPAKAN SEJARAH, BAGAIMANA ASAL-MUASAL KALIAN (CINA), MASUK KE NEGRI KAMI INDONESIA. Dulu ada sebutan/istilah MANUSIA PERAHU. Orang2 CINA masuk ke Indonesia dengan perahu. Awalnya mereka (CINA) tidak punya tanah dan hanya tinggal & berdagang di atas perahu. Kalau memang di negri CINA mreka bisa hidup enak, kenapa harus hijrah ke tanah air Indonesia??? Jawabannya : KARENA DI RRC SUSAH UNTUK MENCARI NAFKAH!
Data menunjukkan RRC adalah negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Jadi kalian (CINA), tidak perlu membangga-banggakan RRC, karena nenek moyang kalian pada jaman dahulu juga keluar dari RRC mgkn karena bermasalah (jd buronan pemerintah) atau diusir dari RRC, dan yg sdh pasti karena susah untuk mencari orang yang bisa kalian tipu di RRC (CINA makan CINA).
Kami PRIBUMI, dgn ketulusan hati & kejujuran hati kami menerima kalian di Indonesia. Hati kami tidak menaruh kecurigaan pada kalian (CINA), karena pada dasarnya mental kami kuat & berani dan hati-nurani kami JUJUR. Bukan mental PENGECUT, PENIPU dan MENCARI UNTUNG PRIBADI!
Sadarlah untuk tidak menghina kaum PRIBUMI yg bekerja untuk kalian!!! Karena makanan, minuman, rumah, bahkan ketenangan hidup yang kau (CINA) dapat sekalipun, itu adalah hasil dari jerih-payah para pekerja-pekerjamu! Coz, if You (CHINESE) don’t respect them (your emplyees), I’m sure that the May ‘98 tragedy, will come again to you all people (CHINESE) really, really soon..!!!
February 12, 2008 at 2:55 pm
“CINA DAN ANJING TIDAK BOLEH MASUK”
tak tahu apa yang ada dalam pikiran saya, ketika berbicara tentang saudara kita yang satu ini. kadang saya ingin mengatakan kalau mereka mempunyai kesalahan pada bangsa ini, akan tetapi setelah melihat faktanya berubah pula pikiran saya.
cina yang saya kenal kebayakan hidup dalam lingkungan yang sangat eksklusif, dan saya bertanya mengapa demikian ?
akhirnya saya menemukan jawaban singkat, pada zaman dahulu perlakuan bangsa indonesia terhadap tionghoa sangat berbeda. jika yang mendaftar jadi “abdi negri” alias PNS akan dipersulit. padahal kita tahu bagaimana kualitas orang cina jika bekerja. nah jika orang jawa yang ingin mendaftar, maka segalanya seolah-olah dipermudah
maka jadilah bangsa kita yang lembek, pemalas dll sehingga produktivitas kerja pemerintah menurun.
seiring dengan itu kehidupan tionghoa, seolah-olah terkucil dari pribumi. tapi mereka masih mampu untuk kritis dalam tindakannya. orang cina akan saling membantu terhadapa sesama, memberikan pinjaman lunak, membantu usaha, dan mempunyai kepercayaan yang tinggi. maka setiap orang cina yang ada akan saling terhubung dengan cina yang lain
beda dengan orang indonesia, jawa khusunya. orang indonesia akan iri dengan tetangganya yang kaya, malah akan dituduh korupsi atau jangan2 main dukun
ahhhhhhhhhhhhhh
entah apapun bangsa ini, mudah2an seiring berjalannya waktu akan ada perubahan ke arah yang lebih baik.
tapi saya berpikir juga, emang orang2 yang tesangkut dana BLBI yang jumlahnya triliunan itu orang apa ya ?
salam kenal