Posted by: Mama Selma on: August 6, 2009
Saat ini semua orang rasanya masih mengharu biru dengan kabar berpulangnya Mbak Surip “Tak Gendong” ke Sang Empunya Hidup, Allah SWT.
Banyak sekali komentar dan kesan yang dilontarkan orang-orang yang merasa dekat dengan si Mbah yang barusan jadi Milyuner namun sayangnya belum sempat menikmati hasil kesuksesannya tersebut.
Salah satunya adalah Emha Ainun Nadjib, yang menjuluki Mbak Surip sebagai “manusia Indonesia sejati”. Manusia yang tidak pernah tampak susah, tidak jemawa, dan selalu tertawa (Jawa Pos, Rabu, 5 Agustus 2009).
Moh Samsul Arifin, salah seorang jamaah Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki Jakarta, sebuah komunitas yang juga tak pernah absen disambangi oleh Mbak Surip semasa hidupnya “menggelandang” di komunitas seniman Jakarta, menggambarkan kisah hidup Mbah Surip seperti Sang Pemberi roh sastra Indonesia yang meninggal di kala usia muda, Chairil Anwar. “Sekali berarti, sudah itu mati”.
Seperti juga Indra Safera, entertainer hebat di masanya yang juga meninggal secara mendadak, Mbah Surip sebetulnya sudah sempat “mengidentifikasikan” kematiannya dengan jelas, kala mengatakan pada sahabat senimannya Mamiek Prakoso, “AKU CAPEK, tapi nggak mau ke rumah sakit. Aku nggak mau dikejar dan dikerubuti penggemar.”
Sebuah kesuksesan yang harus dibayar mahal dengan makin berkurangnya waktu istirahat, buruk dan tidak teraturnya pola makan bisa jadi makin memperparah kondisi Mbah Surip yang memang sudah agak udzur.
Menurut dr Hiromi Shinya dalam bukunya The Miracle of Enzyme, seluruh aktifitas metabolism tubuh manusia melibatkan enzyme. Tanpa enzyme, metabolism tidak akan terjadi. Tanpa metabolism, manusia tidak akan bertahan hidup.
Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperbesar cadangan enzyme di tubuh kita. Misalnya dengan menjaga pola makan dan pola hidup yang sehat.
Perbanyaklah makan buah dan sayur, sebisa mungkin dalam bentuk mentah (raw food). Di dunia barat, raw food diidentikkan dengan live food (makanan yang “hidup”). Raw and living food terutama bahan pangan yang organic, mengandung banyak enzyme yang akan menambah cadangan enzyme untuk keperluan metabolism tubuh.
Kandungan enzyme pada buah atau sayur yang dimasak/dipanaskan dengan suhu di atas 116oF (setara 46,7oC) akan hancur. Enzyme mulai hancur pada suhu 106 oF (setara 41,1 oC). Karena itu masakan yang dimasak dengan kondisi di atas pada dasarnya telah kehilangan banyak enzyme atau rusak (www.living-foods.com).
Kalaupun kita tetap “paksakan” untuk dimakan, proses metabolismenya akan cukup menyedot cadangan enzyme dalam tubuh.
Demikian pula dengan kebiasaan nyeleneh Mbah Surip, yakni yang dalam sehari bisa minum kopi sampai 20 gelas, tanpa pernah minum air putih. Padahal kita tahu, ini sangat fatal. Tak hanya bermanfaat sebagai penghilang dahaga dan mediator pembuangan racun dalam tubuh berupa air seni dan keringat, air juga menjaga proses metabolism tubuh kita. Sebagai media yang mengantarkan vitamin dan nutrisi ke seluruh sel dan organ tubuh, kekurangan air, menyebabkan distribusi vitamin dan nutrisi yang sudah kita konsumsi akan terhambat. Akibatnya daya tahan tubuh akan melemah, layu, dan akhirnya mati (sebelum waktunya…wallahu a’lam)
Bisa jadi apa yang terjadi dengan Indra Safera dan Mbah Surip karena mereka kehabisan cadangan enzyme, akibat pola hidup yang banyak menyedot cadangan enzyme. Yang jelas, sebagai orang yang beriman, adalah wajib bagi kita untuk dapat memungut hikmah dari setiap kejadian.
Selamat jalan Mbah Surip, terima kasih untuk hikmahnya agar kita makin bijak dan menghargai hak-hak tubuh.
Lathifah Ambarwati
Pemerhati Pola Hidup Sehat
Recent Comments